Sementara itu di dalam terowongan kakek dan imam terus mencari
jiyuu. ‘Mam, kamu tunggu di sini, kakek mau ke arah sana. Agak berbahaya jadi
lebih baik kau tidak usah ikut.’ ‘hm’ Imam mengangguk tanda mengerti. Kakek pun
menjauh dan semakin tidak terlihat. Imam yang sendirian bingung, ia harus
melakukan apa. Tak lama ia mendengar sesuatu yang mencurigakan.
‘oi, ada orang di sana..’ seperti itulah kira kira suara
yang di dengar Imam. Karena curiga, ia mendekati suara itu. Semakin dekat ia
menuju asal suara tadi semakin terlihat cahaya yang muncul dari bawah tanah. Ia
ingat apa yang di katakana kakek ‘jangan menuju ke arah cahaya’, tapi karena ia
penasaran, ia terus meneruskan langkahnya. Cahaya makin jelas, yang ternyata
berasal dari tanah yang membelah, jaraknya cukup dalam dan ada air yang
mengalir di bawah sana. ‘o, kau jiyuu kan’ ucap Imam, ‘ya, ini aku’ jawab
Jiyuu. Ternyata jiyuu terperosok ke dalam celah dan sedang bertahan agar tidak
jatuh dengan berpegangan pada tanaman rambat.
‘cepat bantu aku naik’ ucap Jiyuu ‘tidak usah kau pinta pun
akan kubantu’ balas Imam. Imam menarik tanaman rambat yang di pegang Jiyuu dan
barhasil menariknya naik. ‘terimakasih’ ucap Jiyuu yang agak malu mengatakannya
‘ya’ jawab Imam. Jiyuu pun bangun, mengambil potongan kayu di dekatnya begitu
juga Imam yang berdiri untuk menunjukkan jalan keluar. ‘hoy, keapa tidak teriak
meminta tolong saja tadi’ Tanya Imam ‘he?, itu memalukan’ jawab Jiyuu
‘memalukan apa, jika kau diam saja, kau bisa mati jatuh ke celah tadi!’ teriak
Imam ‘Berisik’ balas Jiyuu dengan nada kesal ‘apa!’ bentak Imam dengan nada
marah, dia berbalik kea rah Jiyuu di belakangnya dan #bet..! Jiyuu mengayunkan
tongkatnya ke depan, Imam segera melindungi wajahnya dengan tangan. #Bugh.!.
se’ekor ular terpental membentur dinding tanah. ‘jangan melihat kebelakang saat
sedang berjalan’ ucap jiyuu. Imam kaget, ia pikir jiyuu akan memukulnya dengan
kayu, tapi ternyata ia memukul ular yang bergantung di atas kepalanya dan siap
menyerang. ia melihat ke arah ular yang menggeliat menjauhinya, dan menurunkan
tangannya. Ia masih berdiri terpaku. ‘Hoi, cepat pimpin jalan agar cepat bisa
keluar’ ucap Jiyuu kembali ‘o.., ok’. Di persimpangan mereka bertemu dengan
kakek yang masih sibuk mencari. ‘hee.. kalian ternyata di sini’ ucapnya ‘aduh…
kakek mencari kalian..’ lanjut kakek ‘sudah kek, ayo kita keluar’ potong jiyuu
‘ya, baiklah’. Merekapun berjalan keluar terowongan.
‘huaaahh… akhirnya keluar juga’ ucap jiyuu lega. ‘em..
terimakasih’ ucap Imam pada Jiyuu. ‘ha?’ ‘i.iya’ ‘hoo.. tidak perlu. Kau juga sudah
membantuku kan’ balas Jiyuu. ‘ngomong – ngomong kakek, tidak apa Vicky kita
tinggal’ lanjut jiyuu menanyakan tentang Vicky kepada kakek ‘hm.. Vicky
sepertinya baik baik saja’ jawab kakek ‘bukan itu.. maksudku..’ ucapan jiyuu
terhenti saat seseorang berteriak memanggil mereka dari kejauhan ‘HOI..!!!,
HOI!!!...’ ternyata itu Hiero dari bawah pohon rindang ‘hahaha… HOI…!!!, lihat
lihat.. Vicky sudah sembuh total..’ lanjutnya. ‘he..!?, yang benar saja’ seru
Jiyuu. Bukan hanya sembuh, tangan Vicky yang kemarin sudah hilang sekarang
kembali.. ‘kakek, ini bohong kan’ ucap Imam. ‘haha.. seperti yang kalian lihat’
jawab kakek. ‘kakek.. terimakasih telah menyembuhkan teman kami…’ ucap anak –
anak ‘terimakasih kek’ tambah Vicky. Mereka semua berterimakasih pada kakek
Jousar. ‘sudah – sudah, berterimakasihlah pada dirimu sendiri.. ini juga
berkatmu, vicky’ ucap kakek. ‘apa yang terjadi hingga tanganmu kembali seperti
semula?’ ‘entah, aku terbangun dan tiba – tiba aku ada di sini dan tanganku
kembali’ ‘berarti kau berada di sini sejak semalam’ blab la bla
dalam hati, kakek berfikir ‘anak ini, memiliki ark langka.
Ark suci yang membuatnya memiliki kemampuan pemulihan yang sangat kuat.
Bersukur hingga pohon tua ini bisa berfungsi dengan maksimal’. ‘hmm.. maksud
kakek’ Tanya Vicky yang membuat kakek terbangun dari lamunannya. ‘ya. Ark
milikmu yang telah banyak membantu’ jawab kakek. ‘mm?, aku masih belum
mengerti’. ‘iya kek, kami juga ingin tau kenapa Vicky bisa sembuh seperti
semula’ seru Hiero. ‘itulah kenapa kakek membawa kalian kesini. Di sini..
adalah tempat yang sangat special. Banyak orang mencari keberadaan tempat ini
demi kepentingan mereka. Kalian tau, ini pohon apa.’ ‘ha, pohon apa memangnya
kek’ ‘ini adalah pohon kehidupan, ya… kira – kira sperti itulah anggapan bangsa
elf pada masa itu. Pohon ini sangat membantu untuk meningkatkan tingkat
kemampuan ark.’ ‘jadi pohon ini meningkatkan ark kakek untuk menyembuhkan
Vicky.’ ‘T..tunggu dulu kek. Kakek bilang elf?, jadi bangsa elf itu benar –
benar ada?’ ‘tentu saja mereka ada, karena merekalah kita manusia bisa
menggunakan ark’ ‘maksud kakek, apa manusia belajar dari para elf.. Hebat’ ‘ya,
tetapi ketamakan manusia telah merubah semuanya. Mereka menghianati kepercayaan
bangsa elf, dan berbalik menyerang mereka’ ‘kek…’ rika menarik – narik baju
yang di kenakan kakek, bermaksud untuk menghentikan kakek bercerita lebih
lanjut tentang bangsa elf. Kakek yang mengerti akan maksud rika, iapun segera
berhenti bercerita.
‘Oh iya, jadi. Apa kalian masih tertarik belajar ark?’
‘sangat’ jawab jiyuu ‘yooo…’ jawab Hiero ‘iya kakek’ jawab Imam ‘terserah deh’ jawab Randy. Dan Rika dan
Vicky hanya tersenyum mendengar jawaban mereka semua. ‘sebelum kalian belajar,
sebelumnya kalian harus menemukan apa jenis ark kalian. Ini, terima’ kakek
memberikan masing – masing dari mereka sebuah batu berwarna putih bening.
‘untuk apa batu seperti ini kek?’ Tanya hiero ‘untuk di gunakan seperti ini’
jawab Randy. Dia melemparkan batu itu dan *bletak..!! batunya mengenai kepala
Hiero. ‘Sialan..!!’. ‘bukan – bukan, bukan begitu fungsi dari batu ini’ #Randy
mengambil kembali batunya ‘mereka akan memberitahu apa jenis ark kalian’ jelas
kakek. ‘dengar kan, aku ini pengendali batu’ selak randy ‘batu kepalamu!’ hiero
membalas melempar batu kea rah randy. ‘hooo… jadi mereka pengendali batu ya’
ucap imam kagum. ‘huff.., sepertinya teman kita yang satu ini yang harus di
lempar’ ucap randy kesal.
Akhirnya mereka saling lempar melempar batu.
‘oe.. oE.. OE…!.’ Anak – anak tidak mau mendengarkan ‘baik
kakek pulang jika kalian terus seperti ini’ seru kakek. ‘TUNGGU…!!’ jawab
mereka serentak dengan kepala bercucuran darah, Kakek pun menoleh dan
menghentikan langkahnya. ‘haduh… kalian ini seperti anak – anak’ ucap Rika ‘dan
kau seperti bayi’ balas randy ‘APA..!’.
Perang batu level 2 dimulai kembali. Akhirnya kakek dan
Vicky menjewer telinga mereka semua. Asal tahu saja, ukuran badan Vicky lebih
besar dari pada yang lainnya.
‘awawawawaw… ‘ teriak Randy kesakitan ‘ampun ampun kek…
mereka duluan yang mulai..’ ucap Rika membela diri. ‘kalian semua salah, jadi
kalian harus mendapat hukuman’ Seru Vicky.
Karena tidak ingin di jewer lagi, akhirnya mereka mau
menurut dan diam. Karena semuanya sudah mulai tenang, kakek melanjutkan lagi
penjelasannya. ‘semuanya dengarkan. Genggam batu kalian erat – erat, dan
rasakan energi di sekitar kalian. Rasakan terus hingga energi itu menjadi
semakin jelas.. dan arahkan semua energi yang kalian ke tangan yang menggenggam
batu’. Mereka semua terdiam, berkonsentrasi merasakan energy yang ada di
sekitar mereka, masing masing merasakan seperti sesuatu yang mengalir, dan
dingin, juga ada yang merasakan hembusan angina yang kuat. Serta cahaya yang
sangat terang, walaupun sedang memejamkan mata.
Tak lama setelah itu, kakek berkata. ‘sekarang, lepaskan
perlahan genggaman pada batu kalian, dan lihat apa yang terjadi’. Mereka semua
takjub dengan apa yang telah mereka lihat ‘wahh… kakek..!, di batuku ada airnya
…’ seru Hiero ‘apa ini, retakan yang bergerak’ ucap randy (sebenarnya itu
seperti arus listrik yang biasa ada di bola crystal), sedangkan Vicky diam saja
terkagum melihat batunya yang bersinar.
‘kakek.. batuku tidak berubah.’ Tanya Imam. ‘coba kakek
lihat’. Kakek memperhatikan batu itu dengan serius, wajahnya mengerut walaupun
memang sudah mengkerut.
Tak lama kemudian kakek memukulkan batu itu di kepala imam,
*tuk. ‘aduh, sakit kek’ ‘makanya perhatikan baik – baik… lihat, ada udara yang
berputar di dalam. ‘oh iya ada. Hehehe..’
Di lain tempat rika dan jiyuu berbisik membicarakan sesuatu ‘Oi
rika, kenapa batu kita juga enggak berubah?’ Tanya jiyuu ke rika, ‘entah aku
gak tau’ ‘kamu kan cucunya kakek..’ ‘emangnya kalo cucu kakek tau semuanya, aku
juga baru pertama kali di ajarin ark’ ‘ya udah, sana coba kamu tanyain’ ‘gak.!,
aku gak mau di pentung pake batu’ ‘hezz… yasudah, apa boleh buat kalau begitu.
Ayo mam, berjuang sekali lagi’ ucap jiyuu menyemangati imam ‘hah? Maksudmu’
perdebatan pun semakin sengit, randy yang memperhatikan pun akhirnya membongkar
rahasia mereka pada kakek.
‘kakek, anak – anak yang di sebelah sana kayaknya nggak bisa
liat batunya sendiri’ ‘maksudmu, rika dan yang lainnya itu’ ‘yap. Kalo kakek
mau, aku pinjamkan batuku dengan senang hati’ aura kejam muncul di sekitar
randy.’ ‘tidak usah, kakek punya balok kayu yang besar’. Kakek pun berjalan
mendekati kerumunan bocah berisik dengan membawa balok kayu.
‘hei anak – anak, ada apa.’ Sapa kakek yang tiba – tiba
muncul di belakang mereka dengan wajah tersenyum sinis. ‘eh kakek’ ‘kami..
kami.. kami lagi mamerin batu kami kek’ ‘oh.. boleh kakek lihat’ ‘…..’ ‘Coba
kemarikan batumu Jiyuu’ ‘g.. gak bisa kek, imam mau pinjam batunya’ ‘loh kok
aku’ Jiyuu memberi pandangan tajam ke Imam. ‘kalo begitu, kakek pinjam punya
Rika saja’ ‘eh.. e.. enu kek, batunya.…’ ‘kami tidak mau pinjam’ ucap Vicky
Imam dan Jiyuu serentak. ‘eehhh…!, jahat. Yasudah kek, ini’ Rika memberikan
batunya ke tangan kakek ’ hmm… sepertinya kamu tidak bisa menjadi pengguna ark’
‘apa benar kek?’ ‘ya, batumu tidak berubah sedikitpun. Itu berarti jenis mana
yang kamu punya tidak bisa menghasilkan ark atau malah kamu sama sekali tidak
memiliki mana’ ‘oh.. jadi begitu. Suyukurlah..’ ‘oi.! Kenapa malah bersyukur’
‘hehe.. habis…’ ‘kakek, kalo punyaku bagaimana’ Jiyuu langsung merebut batunya
dari tangan imam. jousar yang melihat batu
dengan seksama, raut wajahnya sempat berubah serius untuk beberapa saat.
‘sepertinya juga begitu’ ‘tidak mungkin
kek, coba periksa sekali lagi’ ‘tidak ada yang berubah…’ ‘ayolah kek.. periksa
lagi’ ‘sudah kakek bilang tidak ada yang berubah..!, kamu bukanlah pengguna
ark!!’ teriak kakek membentak jiyuu karena tidak percaya dengan kata – kata
kakek. Setelah kakek berteriak, jiyuu terdiam memandangi batunya yang sama
sekali tidak berubah. Kesempatan dan harapan yang selama ini di tunggunya
musnah begitu saja. ‘aku.. aku bukanlah seorang pengguna ark, aku hanyalah
manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan apapun. Manusia yang tidak berguna’
pikir jiyuu
‘Semua sampah ini tidak berguna!!!!’ jiyuu melempar batunya
jauh – jauh dan berlari menjauh dari mereka semua. ‘Ji..!’ imam hendak mengejar
jiyuu, tapi tertahan oleh kakek ‘sudah, biarkan dia dulu. Kalian bisa
membantunya dengan cara lain’.
Dia terus berlari dan
berlari menuju hutan yang dalam, sesekali dia terjatuh karena tersandung akar
akar pohon yang menimbul dari dalam tanah. Terlihat airmatanya mengalir deras. ia
berlari sangat jauh hungga sampai di sebuah air terjun yang sangat tinggi.
‘HUAAAAAAAAAA….!!!!!’ ‘SIALAAN..!!. Jiyuu berteriak sekuat tenaga, walaupun
teriakannya tersaingi suara derasnya air yang jatuh dari ketinggian yang sangat
tinggi.
Malampun datang, kakek Jousar dan yang lain sudah berada di
rumah menunggu Jiyuu pulang. ‘kakek.. boleh kita makan duluan..’ Tanya randy
‘sebentar, kita tunggu jiyuu pulang sebentar lagi’ ‘ahh.. paling dia sudah mati
di tengah hutan sana kek’ ucap randy. Rika yang duduk di antara mereka melirik
pada Randy dengan pandangan sinis. ‘Kamu itu manusia macam apa si. Manusia enggak
berperasaan’ ‘sepertinya itu lebih baik dari orang kerdil’ ‘aaah.. Randy Bego!’
teriak rika, dia melemparkan sendok ke wajah Randy, dan pergi menuju kamarnya.
Tapi sebelum ia sampai di pintu kamarnya Jiyuu muncul membuka pintu rumah dan
memandangi mereka dengan seluruh badan yang basah kuyup. ‘jiyuu’ panggil rika ‘jiyuu
kau dari mana saja’ lanjutnya. ‘akhirnya si sumber masalah datang juga’ ‘Woi!’
‘jiyuu ayo kita makan, kita nungguin kamu dari tadi’ ucap Vicky. Jiyuu hanya
diam saja, dia tidak membalas satupun perkataan teman - temannya itu. Dia pergi
kekamarnya menuju meja di kamarnya dan mengambil kalung miliknya. Dia
memandangi seluruh ruangan kamar, dan kembali melangkah keluar dari kamar.
‘hei, kenapa kau’ Tanya Hiero. ‘semuanya terimakasih’ hanya itu yang keluar
dari mulut Jiyuu. Setelah ia berkata
seperti itu ia pergi keluar meninggalkan mereka. Hiero segera berlari
menghalangi jalan jiyuu ‘woi, kalo elu berani ngelewatin gue, gue hajar loe’
mendengar itu jiyuu hanya tersenyum dan melewati Hiero, Hiero yang hendak
memukul jiyuu lalu menghentikan gerakannya. Akhirnya Jiyuu pun pergi menjauh
dari mereka semua.
‘kakek..’ mereka semua memandangi kakek rengan tatapan
memelas kecuali Randy. ‘baik, kakek keluar sebentar. Kalian jaga rumah ya’
kakek berjalan menuju arah dimana jiyuu pergi.
Jiyuu berjalan sendirian tidak tahu harus pergi kearah mana.
Di tengah jalannya itu seseorang hadir menyapanya. ‘hei’ ‘siapa kau’ perlahan
wajah orang itu terlihat sedikit demi sedikit. ‘k..kakek. ada apa kakek kesini.
Aku gak mau kembali ke tempat itu kek, percuma aku gak bisa ark, aku mau
berkelana saja’ ‘hmm.. jadi begitu. Kau hanya perlu bicara pada kakek, kakek
akan membantumu’ jiyuu memandangi wajah kakek dari bawah ‘kakek’ ‘kakek punya
teman yang bisa membantumu, dia bernama Rin dia tinggal di bagian barat daya
Kota Barat. Pergilah kesana dan bawa ini’ kakek memberikan sebuah kantung,
karena penasaran jiyuu membukanya dan ternyata yang ada di dalamnya adalah
sebuah batu bulat setebal dua jari yang sangat indah di dalamnya seperti ada
air berputar yang menyala dan sesekali muncul percikan bunga api atau listik.
Apa ini kek, itu batu milik yang lain, kakek menggabungnya menjadi satu,
perlihatkan ini pada Rin dan dia pasti mengerti. ‘terimakasih kek, aku akan
kesana’ jiyuu berlari meninggalkan kakek ‘hei tunggu’ ‘apa lagi kek’ kakek lalu
memegang pundak Jiyuu dan angina berhembus keluar meniup seluruh air yang
membasahi badan Jiyuu. Pakaian dan badan jiyuu kering dengan seketika ‘tidak
bagus kan jika kamu berjalan dalam keadaan basah kuyup begitu’ ‘hehehe..
terimakasih kek’ ‘yasudah silahkan berangkat’ ‘iya kek, tapi.. arah ke kota
barat kemana ya kek’ ‘jadi kamu masih belum tau ya.’ ‘hehehe.. iya kek’ ‘kamu
terus saja berjalan kearah selatan, sampai di Kota Teluk Naga dan kamu bisa
ikut kereta barang menuju Kota Barat. ‘hohoho.. baik kek, sampai jumpa..’.
Jiyuu pun berlari ke selatan seperti yang di tunjukkan Jousar. Dia sangat
bahagia, karena harapannya kembali muncul.
Rika dan yang lain masih menunggu kakek kembali, dan
berharap jiyuu bersamanya. Dan akhirnya kakek kembali anak – anak pun menyambut
kedatangannya.
‘loh kek, mana anak keras kepala tadi’ ucap randi. Kakek
menggelengkan kepalanya. ‘kakek…’ wajah anak lain sedih, sepertinya kakek tidak
berhasil membawa jiyuu kembali. ‘Yasudah kalian akan bertemu dengannya lagi
suatu hari nanti’.
Pernah kau melihatnya?. Seorang anak kecil yang di tinggal
ayah dan ibunya, berusaha mendapatkan kekuatan untuk membalaskan dendamnya dan
rela untuk menjalani hidup yang keras
“semoga
kita bertemu lagi. Jiyuu Rama”