Minggu, 05 Agustus 2012

Chapter 3,5



Sementara itu di dalam terowongan kakek dan imam terus mencari jiyuu. ‘Mam, kamu tunggu di sini, kakek mau ke arah sana. Agak berbahaya jadi lebih baik kau tidak usah ikut.’ ‘hm’ Imam mengangguk tanda mengerti. Kakek pun menjauh dan semakin tidak terlihat. Imam yang sendirian bingung, ia harus melakukan apa. Tak lama ia mendengar sesuatu yang mencurigakan.
‘oi, ada orang di sana..’ seperti itulah kira kira suara yang di dengar Imam. Karena curiga, ia mendekati suara itu. Semakin dekat ia menuju asal suara tadi semakin terlihat cahaya yang muncul dari bawah tanah. Ia ingat apa yang di katakana kakek ‘jangan menuju ke arah cahaya’, tapi karena ia penasaran, ia terus meneruskan langkahnya. Cahaya makin jelas, yang ternyata berasal dari tanah yang membelah, jaraknya cukup dalam dan ada air yang mengalir di bawah sana. ‘o, kau jiyuu kan’ ucap Imam, ‘ya, ini aku’ jawab Jiyuu. Ternyata jiyuu terperosok ke dalam celah dan sedang bertahan agar tidak jatuh dengan berpegangan pada tanaman rambat.
‘cepat bantu aku naik’ ucap Jiyuu ‘tidak usah kau pinta pun akan kubantu’ balas Imam. Imam menarik tanaman rambat yang di pegang Jiyuu dan barhasil menariknya naik. ‘terimakasih’ ucap Jiyuu yang agak malu mengatakannya ‘ya’ jawab Imam. Jiyuu pun bangun, mengambil potongan kayu di dekatnya begitu juga Imam yang berdiri untuk menunjukkan jalan keluar. ‘hoy, keapa tidak teriak meminta tolong saja tadi’ Tanya Imam ‘he?, itu memalukan’ jawab Jiyuu ‘memalukan apa, jika kau diam saja, kau bisa mati jatuh ke celah tadi!’ teriak Imam ‘Berisik’ balas Jiyuu dengan nada kesal ‘apa!’ bentak Imam dengan nada marah, dia berbalik kea rah Jiyuu di belakangnya dan #bet..! Jiyuu mengayunkan tongkatnya ke depan, Imam segera melindungi wajahnya dengan tangan. #Bugh.!. se’ekor ular terpental membentur dinding tanah. ‘jangan melihat kebelakang saat sedang berjalan’ ucap jiyuu. Imam kaget, ia pikir jiyuu akan memukulnya dengan kayu, tapi ternyata ia memukul ular yang bergantung di atas kepalanya dan siap menyerang. ia melihat ke arah ular yang menggeliat menjauhinya, dan menurunkan tangannya. Ia masih berdiri terpaku. ‘Hoi, cepat pimpin jalan agar cepat bisa keluar’ ucap Jiyuu kembali ‘o.., ok’. Di persimpangan mereka bertemu dengan kakek yang masih sibuk mencari. ‘hee.. kalian ternyata di sini’ ucapnya ‘aduh… kakek mencari kalian..’ lanjut kakek ‘sudah kek, ayo kita keluar’ potong jiyuu ‘ya, baiklah’. Merekapun berjalan keluar terowongan.
‘huaaahh… akhirnya keluar juga’ ucap jiyuu lega. ‘em.. terimakasih’ ucap Imam pada Jiyuu. ‘ha?’ ‘i.iya’ ‘hoo.. tidak perlu. Kau juga sudah membantuku kan’ balas Jiyuu. ‘ngomong – ngomong kakek, tidak apa Vicky kita tinggal’ lanjut jiyuu menanyakan tentang Vicky kepada kakek ‘hm.. Vicky sepertinya baik baik saja’ jawab kakek ‘bukan itu.. maksudku..’ ucapan jiyuu terhenti saat seseorang berteriak memanggil mereka dari kejauhan ‘HOI..!!!, HOI!!!...’ ternyata itu Hiero dari bawah pohon rindang ‘hahaha… HOI…!!!, lihat lihat.. Vicky sudah sembuh total..’ lanjutnya. ‘he..!?, yang benar saja’ seru Jiyuu. Bukan hanya sembuh, tangan Vicky yang kemarin sudah hilang sekarang kembali.. ‘kakek, ini bohong kan’ ucap Imam. ‘haha.. seperti yang kalian lihat’ jawab kakek. ‘kakek.. terimakasih telah menyembuhkan teman kami…’ ucap anak – anak ‘terimakasih kek’ tambah Vicky. Mereka semua berterimakasih pada kakek Jousar. ‘sudah – sudah, berterimakasihlah pada dirimu sendiri.. ini juga berkatmu, vicky’ ucap kakek. ‘apa yang terjadi hingga tanganmu kembali seperti semula?’ ‘entah, aku terbangun dan tiba – tiba aku ada di sini dan tanganku kembali’ ‘berarti kau berada di sini sejak semalam’ blab la bla
dalam hati, kakek berfikir ‘anak ini, memiliki ark langka. Ark suci yang membuatnya memiliki kemampuan pemulihan yang sangat kuat. Bersukur hingga pohon tua ini bisa berfungsi dengan maksimal’. ‘hmm.. maksud kakek’ Tanya Vicky yang membuat kakek terbangun dari lamunannya. ‘ya. Ark milikmu yang telah banyak membantu’ jawab kakek. ‘mm?, aku masih belum mengerti’. ‘iya kek, kami juga ingin tau kenapa Vicky bisa sembuh seperti semula’ seru Hiero. ‘itulah kenapa kakek membawa kalian kesini. Di sini.. adalah tempat yang sangat special. Banyak orang mencari keberadaan tempat ini demi kepentingan mereka. Kalian tau, ini pohon apa.’ ‘ha, pohon apa memangnya kek’ ‘ini adalah pohon kehidupan, ya… kira – kira sperti itulah anggapan bangsa elf pada masa itu. Pohon ini sangat membantu untuk meningkatkan tingkat kemampuan ark.’ ‘jadi pohon ini meningkatkan ark kakek untuk menyembuhkan Vicky.’ ‘T..tunggu dulu kek. Kakek bilang elf?, jadi bangsa elf itu benar – benar ada?’ ‘tentu saja mereka ada, karena merekalah kita manusia bisa menggunakan ark’ ‘maksud kakek, apa manusia belajar dari para elf.. Hebat’ ‘ya, tetapi ketamakan manusia telah merubah semuanya. Mereka menghianati kepercayaan bangsa elf, dan berbalik menyerang mereka’ ‘kek…’ rika menarik – narik baju yang di kenakan kakek, bermaksud untuk menghentikan kakek bercerita lebih lanjut tentang bangsa elf. Kakek yang mengerti akan maksud rika, iapun segera berhenti bercerita.
‘Oh iya, jadi. Apa kalian masih tertarik belajar ark?’ ‘sangat’ jawab jiyuu ‘yooo…’ jawab Hiero ‘iya kakek’ jawab Imam  ‘terserah deh’ jawab Randy. Dan Rika dan Vicky hanya tersenyum mendengar jawaban mereka semua. ‘sebelum kalian belajar, sebelumnya kalian harus menemukan apa jenis ark kalian. Ini, terima’ kakek memberikan masing – masing dari mereka sebuah batu berwarna putih bening. ‘untuk apa batu seperti ini kek?’ Tanya hiero ‘untuk di gunakan seperti ini’ jawab Randy. Dia melemparkan batu itu dan *bletak..!! batunya mengenai kepala Hiero. ‘Sialan..!!’. ‘bukan – bukan, bukan begitu fungsi dari batu ini’ #Randy mengambil kembali batunya ‘mereka akan memberitahu apa jenis ark kalian’ jelas kakek. ‘dengar kan, aku ini pengendali batu’ selak randy ‘batu kepalamu!’ hiero membalas melempar batu kea rah randy. ‘hooo… jadi mereka pengendali batu ya’ ucap imam kagum. ‘huff.., sepertinya teman kita yang satu ini yang harus di lempar’ ucap randy kesal.
Akhirnya mereka saling lempar melempar batu.
‘oe.. oE.. OE…!.’ Anak – anak tidak mau mendengarkan ‘baik kakek pulang jika kalian terus seperti ini’ seru kakek. ‘TUNGGU…!!’ jawab mereka serentak dengan kepala bercucuran darah, Kakek pun menoleh dan menghentikan langkahnya. ‘haduh… kalian ini seperti anak – anak’ ucap Rika ‘dan kau seperti bayi’ balas randy ‘APA..!’.
Perang batu level 2 dimulai kembali. Akhirnya kakek dan Vicky menjewer telinga mereka semua. Asal tahu saja, ukuran badan Vicky lebih besar dari pada yang lainnya.
‘awawawawaw… ‘ teriak Randy kesakitan ‘ampun ampun kek… mereka duluan yang mulai..’ ucap Rika membela diri. ‘kalian semua salah, jadi kalian harus mendapat hukuman’ Seru Vicky.
Karena tidak ingin di jewer lagi, akhirnya mereka mau menurut dan diam. Karena semuanya sudah mulai tenang, kakek melanjutkan lagi penjelasannya. ‘semuanya dengarkan. Genggam batu kalian erat – erat, dan rasakan energi di sekitar kalian. Rasakan terus hingga energi itu menjadi semakin jelas.. dan arahkan semua energi yang kalian ke tangan yang menggenggam batu’. Mereka semua terdiam, berkonsentrasi merasakan energy yang ada di sekitar mereka, masing masing merasakan seperti sesuatu yang mengalir, dan dingin, juga ada yang merasakan hembusan angina yang kuat. Serta cahaya yang sangat terang, walaupun sedang memejamkan mata.
Tak lama setelah itu, kakek berkata. ‘sekarang, lepaskan perlahan genggaman pada batu kalian, dan lihat apa yang terjadi’. Mereka semua takjub dengan apa yang telah mereka lihat ‘wahh… kakek..!, di batuku ada airnya …’ seru Hiero ‘apa ini, retakan yang bergerak’ ucap randy (sebenarnya itu seperti arus listrik yang biasa ada di bola crystal), sedangkan Vicky diam saja terkagum melihat batunya yang bersinar.
‘kakek.. batuku tidak berubah.’ Tanya Imam. ‘coba kakek lihat’. Kakek memperhatikan batu itu dengan serius, wajahnya mengerut walaupun memang sudah mengkerut.
Tak lama kemudian kakek memukulkan batu itu di kepala imam, *tuk. ‘aduh, sakit kek’ ‘makanya perhatikan baik – baik… lihat, ada udara yang berputar di dalam. ‘oh iya ada. Hehehe..’
Di lain tempat rika dan jiyuu berbisik membicarakan sesuatu ‘Oi rika, kenapa batu kita juga enggak berubah?’ Tanya jiyuu ke rika, ‘entah aku gak tau’ ‘kamu kan cucunya kakek..’ ‘emangnya kalo cucu kakek tau semuanya, aku juga baru pertama kali di ajarin ark’ ‘ya udah, sana coba kamu tanyain’ ‘gak.!, aku gak mau di pentung pake batu’ ‘hezz… yasudah, apa boleh buat kalau begitu. Ayo mam, berjuang sekali lagi’ ucap jiyuu menyemangati imam ‘hah? Maksudmu’ perdebatan pun semakin sengit, randy yang memperhatikan pun akhirnya membongkar rahasia mereka pada kakek.
‘kakek, anak – anak yang di sebelah sana kayaknya nggak bisa liat batunya sendiri’ ‘maksudmu, rika dan yang lainnya itu’ ‘yap. Kalo kakek mau, aku pinjamkan batuku dengan senang hati’ aura kejam muncul di sekitar randy.’ ‘tidak usah, kakek punya balok kayu yang besar’. Kakek pun berjalan mendekati kerumunan bocah berisik dengan membawa balok kayu.
‘hei anak – anak, ada apa.’ Sapa kakek yang tiba – tiba muncul di belakang mereka dengan wajah tersenyum sinis. ‘eh kakek’ ‘kami.. kami.. kami lagi mamerin batu kami kek’ ‘oh.. boleh kakek lihat’ ‘…..’ ‘Coba kemarikan batumu Jiyuu’ ‘g.. gak bisa kek, imam mau pinjam batunya’ ‘loh kok aku’ Jiyuu memberi pandangan tajam ke Imam. ‘kalo begitu, kakek pinjam punya Rika saja’ ‘eh.. e.. enu kek, batunya.…’ ‘kami tidak mau pinjam’ ucap Vicky Imam dan Jiyuu serentak. ‘eehhh…!, jahat. Yasudah kek, ini’ Rika memberikan batunya ke tangan kakek ’ hmm… sepertinya kamu tidak bisa menjadi pengguna ark’ ‘apa benar kek?’ ‘ya, batumu tidak berubah sedikitpun. Itu berarti jenis mana yang kamu punya tidak bisa menghasilkan ark atau malah kamu sama sekali tidak memiliki mana’ ‘oh.. jadi begitu. Suyukurlah..’ ‘oi.! Kenapa malah bersyukur’ ‘hehe.. habis…’ ‘kakek, kalo punyaku bagaimana’ Jiyuu langsung merebut batunya dari tangan imam. jousar yang melihat batu  dengan seksama, raut wajahnya sempat berubah serius untuk beberapa saat.  ‘sepertinya juga begitu’ ‘tidak mungkin kek, coba periksa sekali lagi’ ‘tidak ada yang berubah…’ ‘ayolah kek.. periksa lagi’ ‘sudah kakek bilang tidak ada yang berubah..!, kamu bukanlah pengguna ark!!’ teriak kakek membentak jiyuu karena tidak percaya dengan kata – kata kakek. Setelah kakek berteriak, jiyuu terdiam memandangi batunya yang sama sekali tidak berubah. Kesempatan dan harapan yang selama ini di tunggunya musnah begitu saja. ‘aku.. aku bukanlah seorang pengguna ark, aku hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan apapun. Manusia yang tidak berguna’ pikir jiyuu
‘Semua sampah ini tidak berguna!!!!’ jiyuu melempar batunya jauh – jauh dan berlari menjauh dari mereka semua. ‘Ji..!’ imam hendak mengejar jiyuu, tapi tertahan oleh kakek ‘sudah, biarkan dia dulu. Kalian bisa membantunya dengan cara lain’.

 Dia terus berlari dan berlari menuju hutan yang dalam, sesekali dia terjatuh karena tersandung akar akar pohon yang menimbul dari dalam tanah. Terlihat airmatanya mengalir deras. ia berlari sangat jauh hungga sampai di sebuah air terjun yang sangat tinggi. ‘HUAAAAAAAAAA….!!!!!’ ‘SIALAAN..!!. Jiyuu berteriak sekuat tenaga, walaupun teriakannya tersaingi suara derasnya air yang jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi.

Malampun datang, kakek Jousar dan yang lain sudah berada di rumah menunggu Jiyuu pulang. ‘kakek.. boleh kita makan duluan..’ Tanya randy ‘sebentar, kita tunggu jiyuu pulang sebentar lagi’ ‘ahh.. paling dia sudah mati di tengah hutan sana kek’ ucap randy. Rika yang duduk di antara mereka melirik pada Randy dengan pandangan sinis. ‘Kamu itu manusia macam apa si. Manusia enggak berperasaan’ ‘sepertinya itu lebih baik dari orang kerdil’ ‘aaah.. Randy Bego!’ teriak rika, dia melemparkan sendok ke wajah Randy, dan pergi menuju kamarnya. Tapi sebelum ia sampai di pintu kamarnya Jiyuu muncul membuka pintu rumah dan memandangi mereka dengan seluruh badan yang basah kuyup. ‘jiyuu’ panggil rika ‘jiyuu kau dari mana saja’ lanjutnya. ‘akhirnya si sumber masalah datang juga’ ‘Woi!’ ‘jiyuu ayo kita makan, kita nungguin kamu dari tadi’ ucap Vicky. Jiyuu hanya diam saja, dia tidak membalas satupun perkataan teman - temannya itu. Dia pergi kekamarnya menuju meja di kamarnya dan mengambil kalung miliknya. Dia memandangi seluruh ruangan kamar, dan kembali melangkah keluar dari kamar. ‘hei, kenapa kau’ Tanya Hiero. ‘semuanya terimakasih’ hanya itu yang keluar dari  mulut Jiyuu. Setelah ia berkata seperti itu ia pergi keluar meninggalkan mereka. Hiero segera berlari menghalangi jalan jiyuu ‘woi, kalo elu berani ngelewatin gue, gue hajar loe’ mendengar itu jiyuu hanya tersenyum dan melewati Hiero, Hiero yang hendak memukul jiyuu lalu menghentikan gerakannya. Akhirnya Jiyuu pun pergi menjauh dari mereka semua.
‘kakek..’ mereka semua memandangi kakek rengan tatapan memelas kecuali Randy. ‘baik, kakek keluar sebentar. Kalian jaga rumah ya’ kakek berjalan menuju arah dimana jiyuu pergi.
Jiyuu berjalan sendirian tidak tahu harus pergi kearah mana. Di tengah jalannya itu seseorang hadir menyapanya. ‘hei’ ‘siapa kau’ perlahan wajah orang itu terlihat sedikit demi sedikit. ‘k..kakek. ada apa kakek kesini. Aku gak mau kembali ke tempat itu kek, percuma aku gak bisa ark, aku mau berkelana saja’ ‘hmm.. jadi begitu. Kau hanya perlu bicara pada kakek, kakek akan membantumu’ jiyuu memandangi wajah kakek dari bawah ‘kakek’ ‘kakek punya teman yang bisa membantumu, dia bernama Rin dia tinggal di bagian barat daya Kota Barat. Pergilah kesana dan bawa ini’ kakek memberikan sebuah kantung, karena penasaran jiyuu membukanya dan ternyata yang ada di dalamnya adalah sebuah batu bulat setebal dua jari yang sangat indah di dalamnya seperti ada air berputar yang menyala dan sesekali muncul percikan bunga api atau listik. Apa ini kek, itu batu milik yang lain, kakek menggabungnya menjadi satu, perlihatkan ini pada Rin dan dia pasti mengerti. ‘terimakasih kek, aku akan kesana’ jiyuu berlari meninggalkan kakek ‘hei tunggu’ ‘apa lagi kek’ kakek lalu memegang pundak Jiyuu dan angina berhembus keluar meniup seluruh air yang membasahi badan Jiyuu. Pakaian dan badan jiyuu kering dengan seketika ‘tidak bagus kan jika kamu berjalan dalam keadaan basah kuyup begitu’ ‘hehehe.. terimakasih kek’ ‘yasudah silahkan berangkat’ ‘iya kek, tapi.. arah ke kota barat kemana ya kek’ ‘jadi kamu masih belum tau ya.’ ‘hehehe.. iya kek’ ‘kamu terus saja berjalan kearah selatan, sampai di Kota Teluk Naga dan kamu bisa ikut kereta barang menuju Kota Barat. ‘hohoho.. baik kek, sampai jumpa..’. Jiyuu pun berlari ke selatan seperti yang di tunjukkan Jousar. Dia sangat bahagia, karena harapannya kembali muncul.
Rika dan yang lain masih menunggu kakek kembali, dan berharap jiyuu bersamanya. Dan akhirnya kakek kembali anak – anak pun menyambut kedatangannya.
‘loh kek, mana anak keras kepala tadi’ ucap randi. Kakek menggelengkan kepalanya. ‘kakek…’ wajah anak lain sedih, sepertinya kakek tidak berhasil membawa jiyuu kembali. ‘Yasudah kalian akan bertemu dengannya lagi suatu hari nanti’.
Pernah kau melihatnya?. Seorang anak kecil yang di tinggal ayah dan ibunya, berusaha mendapatkan kekuatan untuk membalaskan dendamnya dan rela untuk menjalani hidup yang keras
“semoga kita bertemu lagi. Jiyuu Rama”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar