Kota teluk naga 06.32
Jiyuu telah sampai di pinggiran kota teluk naga. Kota ini memiliki
jumlah populasi yang cukup banyak untuk ukuran kota yang tidak terlalu besar.
Itu karena kota ini adalah salah satu tempat wisata yang ada di gracia.
Jiyuu yang berjalan menuju ke kota ini akhirnya sampai di
alun – alun kota teluk naga ‘hosh hosh… hargh…. Cape’ ucap jiyuu yang kelelahan
setelah berjalan jauh.
Tepat di tengah alun – alun kota teluk naga terdapat air
mancur yang sangat indah. bangunan yang terbuat dari lapisan batu trasparan
membuat air yang ada di dalamnya seperti terbang, terlebih lagi cahaya matahari
yang di pantulkan oleh air membuatnya berkilauan. Selain itu, ada patung ukiran
berbentuk naga yang melingkar hingga menuju puncak dan ada sungai kecil yang
jernih mengalir di dalam kota. Air itu berasal dari air mancur yang di alirkan
ke seluruh kota.
Air mancur itu terbentuk dengan sendirinya karena proses
alam yang membuat air menyembur dari dalam tanah.
‘hee.. kota ini bener
– bener keren…..’ seru jiyuu yang terkagum melihat air mancur di alun – alun
kota teluk naga. Setelah ia puas mengamati air mancur ia penasaran dan
menelusuri alur sungai kecil dari monumen kota itu. Ia terus mengikuti alur
sambil berlari – lari kecil.
Semua keindahan di kota ini membuatnya lupa akan tujuannya
yang sebenarnya untuk mencari kendaraan yang dapat membawanya pergi ke tempat
di nama Rin, orang yang dapat membantunya itu berada.
Di tengah penelusurannya itu, ia sampai di lokasi sisi kota
yang sangat sepi dari keberadaan orang – orang. kemudian ia tersadar kalau hanya
dia sendiri yang ada di wilayah itu. Dia terus berjalan mengikuti alur sungai
sambil memperhatikan sekelilingnya. Tak lama ia berjalan dari tempat tadi,
ternyata dia sudah berada di luar daerah kota. Dan yang ada di hadapannya
hanyalah tanah kosong yang sangat luas… di tumbuhi rumput hijau yang subur dan
beberapa pohon yang berdiri. di tengah semua itu di balik pepohonan, ada danau
yang juga luas. ‘hoo.. ternyata air ini mengalir sampai danau di sebelah sana’
pikir jiyuu dalam hati.
Jiyuu berfikir untuk melihat – lihat sebentar ke danau itu,
dan akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju kesana. Sesampainya di pinggiran danau
dia menghirup nafas dalam – dalam, menikmati pemandangan yang ada. Ia terlihat
sangat senang, ia melemparkan batu – batu ke danau dan membuat lompatan –
lompatan pada batu yang di lemparkannya.
Tapi, saat dia melempar batu untuk yang ke sekian kalinya,
ia melihat dari kejauhan ada sebuah dermaga kecil dan ada beberapa orang yang
terlihat di sana. Ia berlari mendekat ke dermaga untuk melihat lebih jelas.
Tepat di ujung jembatan ada seorang anak kecil bersama dengan 3 orang dewasa
lainnya. tampaknya anak tersebut sedang dalam masalah.
Jiyuu bersembunyi di balik tumpukan papan yang ada di sana
dan menguping pembicaraan mereka. ‘sepertinya barang – barang ini akan berharga
mahal’ ucap salah seorang dari tiga berandalan itu ‘hoi.. ayo serahkan yang
lainnya lagi’ teriak orang yang lainnya. anak kecil itu menangis ketakutan
sambil di pegang oleh berandal lainnya agar dia tidak bisa melarikan diri.
‘ah sial, seharusnya aku tidak mendekat ke tempat ini’ pikir
jiyuu. Tapi itu sudah terlambat, karena ia sudah terjebak dan tidak bisa
keluar, jika dia berlari menjauh dia akan menampakkan dirinya sendiri dan akan
ikut terlibat dalam masalah.
Karena gugup, tangan jiyuu menyenggol papan yang tergeletak
miring di sampingnya hingga papan itu jatuh. “Brak..!”. suara itu membuat
ketiga berandal yang mendengar suara gaduh itu curiga, dan menyadari pasti ada
seseorang yang sedang bersembunyi di balik tumpukan papan.
‘Hoi..!, siapa disana!’ teriak salah seorang dari berandal.
Jiyuu tetap diam di tempatnya berusaha membuat mereka percaya kalau tidak ada
orang di sana. Tetapi berandal itu tetap saja mengira kalau di sana pasti ada
seseorang. Salah seorang dari mereka memerintahkan temannya berjalan untuk
memastikan, “dap, dap, dap” suara langkah kaki pria yang berjalan di atas
jembatan kayu itu terdengar nyaring. Suara itu semakin mendekat, jiyuu sangat
gugup hingga ia sudah tidak bisa berfikir cara lain untuk kabur. ‘ah sialan.
Apa boleh buat’ pikirnya putus asa tidak ada cara lain.
Dengan segera jiyuu menampakkan dirinya dari persembunyian.
Ia berdiri menatap mereka dengan tajam sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sebenarnya dia sangat takut untuk menghadapi mereka, tetapi apa boleh buat
pikirnya. ‘hahaha… ternyata bocah lainnya’ tawa berandalan itu, di ikuti dengan
suara tawa dari yang lainnya. ‘hei bocah, ada perlu apa kau kemari’ ujar salah
seorang berandal. Jiyuu diam saja, dan semakin kencang mengepalkan tangannya.
Lalu berandal tadi berjalan mendekat, jiyuu panik melihat salah satu berandal
itu mendekat. ‘Haaa……!’ dengan gegabah ia segera berlari menuju berandal dan
melepaskan pukulan sekuat tenaga “wut”. Tetapi pukulannya dapat di hindari
dengan mudah oleh pria berandal tadi, ia menghindar ke sisi kiri jiyuu dan
melakukan tendangan kencang pada jiyuu.
“Buagh” tendangan tadi dengan telak mengenai bagian perut jiyuu ‘hoak..’ jiyuu
memuntahkan cairan dari mulutnya, dan dia pun terpental kearah berandal
lainnya.
Jiyuu terkapar persis di depan anak kecil tadi, dan itu
membuat anak itu menjadi semakin takut. ‘hahaha… kamu lihat kan. Inilah
akibatnya jika berani menantang kami’ seru orang yang memegangi tangan anak
kecil itu. Orang yang menendang jiyuu mulai mendekatinya lagi dan mencengkram
pakaian yang di pakai jiyuu ‘hei bocah, sepertinya kau itu anak miskin ya’
ucapnya persis di depan jiyuu. Memang pakaian yang di kenakan jiyuu sudah
sangat lusuh karena dia berjalan menusuri hutan dan tidur di atas tanah, dan itu
membuat penampilannya sangat kumuh.
Jiyuu berusaha berdiri, walau sedikit terhuyung – huyung. Ia
menepis tangan yang mencengkram kerah bajunya dan terus memandang tejam ke
wajah pria yang menendangnya. Pakaian yang di pakai jiyuu menjadi longgar
karena cengkraman pria tadi, hingga kalung yang di pakai jiyuu terlihat
olehnya. Pria itu pun langsung meraih kalung yang di kenakan jiyuu, dan
menariknya dengan paksa. ‘Hoi.! Kembalikan.!’ Teriak jiyuu, tetapi pria itu
tidak memperdulikannya dan sibuk memperhatikan kalung yang di miliki jiyuu. ‘oi
kawan, kita punya barang tambahan lagi’ ujarnya pada teman temannya ‘ho,
beruntung sekali’ sahut salah satu temannya. Jiyuu terlihat makin kesal dengan
apa yang di lakukan oleh pria itu. ‘hei, bocah sepertinya orang tuamu itu sangat tolol ya, memberikan benda
berharga seperti ini kepadamu’ ucapnya. Seketika raut wajah jiyuu berubah,
matanya semakin tajam dan pupil matanya mengecil. Ada angin yang berhembus dari
arah jiyuu, ia merebut kalungnya dengan cepat dan menghantamkan bilah besi ke
wajah pria tadi dengan amat sangat keras “Buagh!”. Salah seorang berandal
melihat ke tangannya, dan bilah besi yang tadi di genggamnya sudah tidak ada. ‘a..apa!,
tidak mungkin’ ujarnya terkejut. Sejumlah darah tersembur dari wajah dan mulut
pria yang di hantam oleh jiyuu, lalu ia jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
‘Hoi…!, berengsek!’ teriak salah seorang berandal. teman pria tadi mulai
membalas menyerang jiyuu.
Akhirnya mereka berdua pun mengeroyok jiyuu. Sebenarnya
jiyuu tidak cukup kuat untuk melawan mereka semua sendirian, tetapi jiyuu sudah
tidak perduli lagi, dan terus menerus menyerang mereka, mengayunkan bilah
besinya secara membabi buta.
Kedua berandal tadi sudah babak belur, terkena sabetan –
sabetan yang di lancarkan jiyuu. Begitu pula dengan jiyuu, wajahnya sudah lebam
terkena pukulan mereka, tetapi ia masih terus berusaha berdiri.
‘Berhenti kalian.!’ Terdengar suara teriakan seseorang dari
kejauhan. Kedua berandal tadi menoleh kearah datangnya suara dan melihat banyak
pengawal kota berlari menuju mereka. ‘ah sial, kita harus pergi’ ujar salah
satu berandal pada temannya. Jiyuu yang melihat kesempatan langsung melompat
dan mengarahkan pukulannya kearah berandal itu, berandal itu menyadarinya
tetapi ia terlalu lambat untuk menghindari serangan tiba – tiba yang di lakukan
jiyuu dan bilah besi tadi akhirnya menghantam leher bekalang berandal tadi dan
membuatnya terjatuh. Berandal lain yang melihatnya langsung berusaha melarikan
diri menuju kedalam air, tetapi kakinya tertahan oleh anak kecil yang tadi
bersama mereka. Walaupun begitu, dengan mudah dia dapat melepaskannya dengan
mengayunkan kakinya, dan membuat anak kecil itu melepaskan genggamannya. Tetapi
sekali lagi, kaki kirinya tertahan. Kali ini jiyuu yang menahan kakinya agar dia
tidak bisa lari. Pria itu pun makin kesal, dan menendang jiyuu dengan kaki
kanannya yang bebas sekuat tenaga, dan genggaman jiyuu pun terlepas, dan ia
tersungkur. Pria tadi akhirnya bisa bebas dan terjun ke danau.
Pengawal yang terdekat pun menyusulnya dan ikut terjun ke
danau untuk mengejar pria yang kabur itu. Pria yang lain masih pingsan, dan
yang satu lagi menyerah karena sudah tidak dapat bergerak lagi. Anak kecil tadi
merangkan mendekati jiyuu yang meringkuk diam, ‘uhuk,.. uhuk..!’ jiyuu batuk –
batuk setelah menerima tendangan yang sangat kencang tadi. Mulutnya terbuka dan
ada cairan bercampur darah yang keluar dari dalam, matanya sayu memandangi anak
kecil yang ada di hadapannya. Para penjaga mulai memenuhi tempat itu, dan salah
seorang dari mereka mendekat, ‘nona, apa anda baik – baik saja’ ucapnya. ‘aku
laki – laki, kenapa kau panggil nona’ pikir jiyuu, yang pandangannya makin
buram. Tak lama ia pun sudah tidak sadarkan diri.
kejadian lain di bagian atas sana.
Jiyuu menampakkan dirinya dari tempat
persembunyiannya dan berdiri mengharapi mereka dengan bergetar.
Dia melihat kearah mereka, salah seorang berandal
sedang memukul – mukul jembatan kayu dengan sebilah tongkat dan menghasilkan
suara seperti orang sedang berjalan di atas jembatan kayu itu.
‘Hoi..!!! sialan…!!!! Jadi itu cuma tongkat yang
di getok – getok..!!!! Kampret..!!! gue pikir loe beneran jalan kesini’
~Tapi ini gak di tulis karena kata yang lain, ini jadi komedi, dan kita
gak pernah lucu kalo bikin cerita komedi~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar